Menjemput Rizqi
Salah seorang ustadz yang mengajar di pondok mendatangi saya dan menyampaikan ada seorang anak yang putus sekolah. Ia menyarankan pondok untuk bisa menolong sang anak. Saat itu entah kenapa saya langsung menjawab "iya" padahal klo melihat kondisi pondok saat ini belum mumpuni menambah santri. karena sudah mengiyakan, saya dan ustadz Ahmadi segera pergi ke rumah anak tersebut. Tetapi modal datang kesana kami hanya tau nama desa dan dusunnya dan tidak tau dimana rumahnya. Desanya terletak di Sariputih 4.
Perjalanan ke desa itu butuh perjuangan. Lirih ku berkata "adakah orang yang tinggal disini, subhanallah". Kami mencari anak itu hanya bermodalkan namanya saja. Kamipun bertanya sana sini hingga ditunjukkanlah sebuah rumah yang saat itu ada seorang anak lagi duduk sendirian didepan tv old style. Untuk memastikan rumah tersebut kami bertanya pada sang anak.
"apakah benar ini rumah Rizqi?", "benar saya sendiri pak". "bapak sama mamamu mana?", "bapak saya sudah gak ada pak, sudah meninggal, ibu saya lagi pergi", "kamu benar kelas 2??, "benar pak kelas 2 SD". "ohhhhhh kelas 2 SD bukan SMP" . Oalah salah orang, ternyata bukan anak ini yang kami cari walau sama-sama namanya Rizqi dan sama-sama tidak ada bapaknya. Sebelum pergi sempat kami kasih uang untuk jajan.
Kami pun melanjutkan pencarian yang akhirnya menemukan rumah nenek dari anak tersebut. mengalir cerita dari sang nenek jika sang anak awalnya dititipkan ibunya kepada neneknya, karena neneknya sudah tua oleh neneknya anak tersebut dititipkan ke pamannya yang rumahnya masih jauh lagi dipelosok desa.
Setelah mendengar cerita nenek kamipun dikasih tau jalan menuju rumah pamanya yang lebih jauh masuk kedalam hutan desa (dan ternyata sedikit sekali warga yang tinggal disana dan bertahan hidup dalam keterbatasan).
Akhirnya kami pun menemukan rumahnya. Sang anak yang sedang pergi mencari kayu pun kami panggil. Dia datang dengan celana yang sudah kekecilan tanpa menggunakan baju. Kamipun bertanya keseharian dan mengajaknya untuk sekolah kembali. Tapi dengan wajah keraguan dia menyampaikan rasa malunya "ya allah nakkk bukan salahmu gak perlu malu". dia juga mikir baju2nya nanti bagaimana. Kami pun bilang semua gak usah dipikirkan yang penting kamu mau sekolah dan tinggal dipondok belajar. Satu lagi keraguan yang dia sampaikan sambil malu-malu bahwasannya sampai sekarang dia belum disunat, jadi dia menanyakan bagaimana sunatnya nanti. Sempat tertegun sejenak, kami sampaikan nanti sunatnya dipondok aja gak usah dipikirkan biayanya. Dengan wajah masih ragu-ragu dia menganggukkan kepala. Ustadz Achmadi yang mendampingi bertanya kembali apakah masih ada keraguan?. Anak tersebut tak menjawab apa-apa. Akhirnya disampaikan klo kami akan menunggu dipondok Pesantren Hidayatullah Kobi.
Ya allah masih banyak rizki rizki yang lain, putus sekolah dengan sebab berbeda-beda. Semoga Allah mudahkan langkah kami menjemput Rizqi, menolong anak-anak ini. amin ya rabbal alamin.
Kegiatan di SMP Annajaah IBS Hidayatullah Kobi