Manusia dan Teknologi: Pengantar Filsafat Teknologi
oleh: Taufik Hidayat
Fenomena Belakangan Ini
Belum lama ini, Microsoft mengeluarkan laporan tahunan “Civility, Safety, and Interactions Online – 2020” dalam 2020 Digital Civility Index (DCI) tentang tingkat kesopanan pengguna internet, termasuk netizen di Indonesia. Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-29 dari total 32 negara yang diteliti Microsoft. Sistem penilaiannya berkisar dari 0 hingga 100, dimana makin rendah skor berarti paparan risiko online makin rendah, sehingga tingkat kesopanan di internet negara itu semakin tinggi. Diketahui, bahwa ada beberapa hal yang menjadi risiko terbesar netizen Indonesia di dunia maya, yakni hoax dan penipuan, ujaran kebencian, serta diskriminasi (www.asumsi.co).
Kemudian, rencana pembangunan Bukit Algoritma yang diproyeksikan menjadi pusat pengembangan industri dan teknologi 4.0 serta pengembangan sumber daya manusia dengan lahan seluas 888 hektare di Cikidang dan Cibadak yang diperkirakan menghabiskan dana Rp18 triliun. Respon datang salah satunya dari Gubernur Jawa Barat yang mewanti-wanti agar proyek tersebut tidak menjadi sekadar gimik, sebab bila berkaca pada Silicon Valley di Amerika Serikat, maka disana ada kumpulan universitas, industry, dan finansial institusi (www.tirto.id).
Sebelumnya, ada kehadiran Electronic Nose atau GeNose. Sebuah teknologi yang berfungsi untuk mendeteksi Covid-19 melalui hembusan napas. Orang-orang yang akan diperiksa menggunakan GeNose, terlebih dahulu diminta mengembuskan napas ke tabung khusus. Sensor-sensor dalam tabung itu, lalu bekerja mendeteksi VOC (Volatile Organic Compound) yang terbentuk lantaran adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama napas. Kemudian, data yang diperoleh akan diolah dengan bantuan kecerdasan buatan hingga memunculkan hasil. Dalam waktu kurang dari 2 menit, GeNose bisa mendeteksi apakah seseorang positif atau negatif Covid-19 (www.mipa.ugm.ac.id).
Di sisi lain, kerusakan lingkungan masih terus terjadi di Indonesia, seperti kebakaran hutan dan pencemaran sungai. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2019, bahwa jumlah luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 1.649.258 hektar. Penyebabnya bisa terjadi karena keteledoran manusia, pembukaan lahan, dan alasan lainnya. Kerusakan juga terjadi di sungai dimana pencemaran telah mengakibatkan ekosistem di area sungai menjadi terganggu, banyak ikan mati, dan penurunan kualitas air. Salah satu contohnya pencemaran Sungai Citarum yang disebabkan oleh 86 perusahaan yang membuang limbah cair ke DAS Citarum. Hal ini menyebabkan adanya proses pembusukan dan air sungai menghitam (www.kompas.com).
Beberapa peristiwa diatas hanya sekelumit bukti dari terus berlangsungnya hubungan teknologi, manusia, dan alam yang saling memengaruhi satu dengan lainnya. Teknologi memiliki hubungan yang kian erat dengan aktivitas manusia baik dalam tataran individual hingga global dari teknologi yang sederhana hingga kompleks.
Sejarah Teknologi
Dalam catatan sejarah, diketahui suatu fase yang menjadi bagian dari sejarah teknologi yang dikenal sebagai fase Revolusi Industri. Tahap pertama revolusi ini terjadi pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Ditandai dengan hadirnya mekanisasi sebagai penciri peradaban. Sebuah proses tergantikannya dominasi agrikultur dengan industri sebagai dasar dari struktur ekonomi masyarakat. Tenaga manusia dan binatang bertahap digantikan dengan tenaga mesin yang lebih efektif. Ekstraksi batubara secara massal dan penemuan mesin uap menciptakan jenis energi baru dan mendorong proses-proses produksi. Pertukaran ekonomi berkembang yang semula sekadar masalah pertukaran barang menjadi soal pertukaran manusia dan modal. Fenomena Revolusi Industri ini pula yang meningkatkan syahwat bangsa Barat untuk mengekspansi dunia Timur guna mendapatkan bahan mentah dan tenaga buruh yang murah. Upaya politis Barat yang dikenal sebagai Kolonialisme tersebut sarat kepentingan ekonomi dan dorongan revolusi industri. Hingga pada era selanjutnya muncullah Revolusi Industri kedua dimana upaya Barat untuk menguasai Timur menjadi semakin menggebu, karena bahan mentah yang melimpah di Timur, yakni minyak dan gas bumi.
Revolusi Industri kedua terjadi pada akhir abad ke-19. Kemajuan teknologi baru memprakarsai munculnya sumber energi baru dan ditemukannya energi listrik. Temuan tersebut mengantikan mekanisasi bermesin uap yang telah berlangsung hampir satu abad. Pengembangan mesin pembakaran dilakukan agar dapat menggunakan sumber daya baru, seperti minyak dan gas bumi. Kemudian, industri baja bertahap tumbuh seiring permintaan eksponensial untuk baja. Sintesis kimia juga dikembangkan untuk memproduksi kain sintetis, pewarna, dan pupuk. Metode komunikasi berevolusi dengan penemuan telegraf dan telepon. Begitu pun metode transportasi yang juga berkembang dengan hadirnya mobil dan pesawat pada awal abad ke-20. Perkembangan-perkembangan inilah yang turut menopang kapitalisme ekonomi dengan menguatnya industri-industri berskala besar dan bermodal raksasa.
Revolusi Industri ketiga terjadi pada paruh kedua abad ke-20. Revolusi ini ditandai dengan adanya jenis energi baru yang memiliki potensi melampaui pendahulunya, yakni energi nuklir. Dengan energi ini, dibuat berbagai piranti elektronik seperti transistor dan mikroprosesor. Teknologi ini yang melahirkan perangkat yang lebih cerdas, yaitu komputer. Bahkan dengan teknologi elektronik ini, manusia mulai berupaya untuk merambah ruang luar angkasa. Dampak dari revolusi ini, terutama dalam hal peranannya melahirkan otomatisasi tingkat tinggi dalam produksi, khususnya terkait dua penemuan utama, yakni programmable logic controllers dan robot. Namun masih banyak instrument yang bersifat analog, sehingga pada era berikutnya muncul kecenderungan digitalisasi, sebuah penanda revolusi industry keempat.
Revolusi Industri keempat ditandai dengan pengelaborasian teknologi yang mengaburkan batas antara fisik, digital, dan biologis. Perubahan yang mentransformasi sistem produksi, manajemen, dan tata kelola. Revolusi yang sedang berlangsung saat ini dengan diawali munculnya internet pada awal milenium ketiga. Digitalisasi memungkinkan untuk membangun dunia virtual baru yang dapat mengarahkan dunia fisik. Industri tahap ini berupaya untuk menghubungkan semua alat produksi untuk keperluan interaksi secara real time. Membuat komunikasi antara pemain dan objek dalam jalur produksi dengan teknologi, seperti Cloud, Big Data, dan Internet of Things. Sebuah tahap dimana persaingan terbesar terletak pada penguasaan data dan informasi. Pihak yang memiliki data besar, lengkap, dan global akan memenangkan persaingan.
Masa sebelumnya bukan berarti tidak adanya teknologi, sebab dalam penelitian arkeologi dan antropologi menyatakan, bahwa manusia survive dan berevolusi membentuk peradaban dengan instrumen teknis. Zaman Batu (Paleolithicum, 700.000 BC) adalah awal manusia menggunakan instrumen teknis. Batu dengan bentuk khas menjadi alat yang berfungsi untuk mengupas, memecah, dan memotong. Pada masa itu, batu adalah instrumen yang memudahkan manusia dalam menghadapi dunianya. Zaman Perunggu (6000 BC) menandai awal kemajuan teknologi dalam hal kerja logam. Perunggu telah menggantikan batu sebagai alat. Alat-alat dari perunggu ini, seperti kapak, pisau, pahat, tombak. Kemudian, Zaman Besi (1200 BC) yang menggantikan zaman perunggu. Besi pada masa itu adalah material yang lebih kuat dibandingkan dengan perunggu dan menjadi tren pengganti perunggu. Kerja logam dengan bahan material besi meluas dalam banyak bentuk artefak, salah satunya ornamen-ornamen. Bentuk artefak lebih detail terdapat pada persenjataan. Dengan kata lain, ilmu metalurgi mendapat pijakannya pada masa ini. Dan masih banyak lagi catatan sejarah yang lain.
Karakteristik Teknologi
Secara harfiah teknologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “tecnologia” yang berarti pembahasan sistematik mengenai seluruh seni dan kerajinan. Istilah tersebut memiliki akar kata “techne” dalam bahasa Yunani kuno yang berarti seni (art) atau kerajina (craft). Dalam bahasa Yunani kuno, teknologi dapat didefinisikan sebagai seni memproduksi alat-alat produksi dan menggunakannya. Definisi terus tersebut berkembang hingga Teknologi dapat pula dimaknai sebagai “pengetahuan mengenai bagaimana melakukan sesuatu” (know how of making things) atau (know how of doing things) adalah kemampuan untuk mengerjakan sesuatu dengan nilai yang tinggi, baik nilai manfaat maupun nilai jualnya (Martono, 2012).
Sementara dalam pandangan Henslin, bahwa istilah teknologi dapat mencakup dua hal. Pertama, teknologi sebagai peralatan untuk menyelesaikan masalah. Sisir yang berkarakteristik sederhanan hingga komputer yang berkarakteristik kompleks adalah contoh dari teknologi merujuk pada peralatan. Kedua, teknologi sebagai keterampilan atau prosedur untuk membuat dan menggunakan peralatan tersebut. Dalam hal ini, teknologi berarti tidak hanya merujuk pada prosedur yang diperlukan untuk membuat sisir atau komputer, tetapi juga meliputi prosedur untuk mengatur tatanan rambut yang dapat diterima atau untuk pengaturan jaringan internet.
Selaras dengan pandangan diatas, hal yang pasti menjadi pemahaman awal mengenai teknologi biasanya mengarah pada wujud benda yang dibuat oleh manusia dari suatu materi konkret, contohnya sendok, garpu, handphone, dan seterusnya. Semakin kompleks cara pengolahannya, maka teknologi tersebut akan diklasifikasikan sebegai teknologi tinggi atau canggih. Pengolahan materi menjadi benda yang kemudian disebut sebagai teknologi itu tentu melayani tujuan tertentu atau dapat digunakan untuk kepentingan pembuatnya. Maka, karakteristik berikutnya dari teknologi adalah sebagai alat yang memiliki manfaat praktis.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup, manusia berelasi dengan sesamanya dan alam lingkungannnya dimana teknologi turut mengambil peran dalam hal itu. Sebagai alat yang membantu kelangsungan hidup manusia, teknologi juga memiliki sifat sebagai perantara yang menghadirkan cara baru dalam melakukan sesuatu. Misalnya perubahan cara bercocok tanam dari menggunakan tangan hingga cangkul dan traktor. Cara baru ini menghasilkan hubungan timbal balik antara teknologi dan manusia selaku pembuat dan penggunanya serta berimplikasi terhadap lingkungan manusia. Misalnya penggunaan handphone untuk keperluan komunikasi dan lainnya yang turut memengaruhi perubahan lingkungan. Berarti, teknologi juga layaknya sesuatu yang tertanam sekaligus berdampak pada budaya manusia. Dampak yang dihasilkan termasuk terhadap lingkungan, mengharuskan manusia selalu berfikir ulang untuk mengantisipasi akibat dari teknologi yang diciptakan.
Sebagai benda, teknologi juga diberi nilai dalam penggunaannya. Pertama, bahwa teknologi yang melayani tujuan tertentu dinilai atau bernilai berdasarkan kegunaannya. Kedua, bernilai pertukaran bila ditinjau dari perpektif ekonomis. Ketiga, objek yang memiliki nilai simbolik. Dan keempat, nilai tanda dari objek. Penggunaan teknologi terikat dengan kebudayaan masyarakat penggunanya, sehingga teknologi yang sama dapat dimanfaatkan dengan caras dan tujuan yang berbeda dalam budaya yang berbeda (Lim, 2008). Penggunaan teknologi juga ada masanya, sehingga ia terus berkembang, ada yang mengalami habis guna, dan dikenal istilah teknologi kuno dan teknologi modern.
Hakekat Teknologi
Pertanyaan tentang hakekat teknologi sebenarnya sudah muncul sejak zaman Yunani Kuno hingga berlanjut pada masa dimana beberapa filsuf memberikan perhatian pada hakekat teknologi dalam dunia kehidupan. Beberapa filsuf tersebut adalah Martin Heidegger, Jurgen Habermas, Jacques Ellul, dan Don Ihde. Pada sub-bab ini, dipaparkan sekilas pandangan Heidder mengenai hakekat Teknologi.
Martin Heidegger dalam Die Frage nach der Technik (Pertanyaan mengenai Hakekat Teknik), sebuah makalah yang disajikan dalam seminar “Seni dalam Zaman Teknologis” di Munchen tahun 1953 mencoba menjawab pertanyaan mengenai hakekat teknologi. Dalam gagasannya, teknologi adalah sarana untuk mencapai suatu tujuan. Gagasan instrumentalisme tentang teknologi berguna untuk memahami perkembangan teknologi dan masyarakat penggunanya. Misalnya dalam perkembangan teknologi perang dimana teknologi menjadi instrumen untuk mempertahankan diri sekaligus mengancam lawan. Contoh lagi, perkembangan teknologi mesin pada masa pengembangan industri manufaktur sebelum dan sesudah revolusi industri. Tetapi, Heidegger juga memandang bahwa dalam pendekatan instrumental, manusia tergoda menumbuhkan kehendak untuk menguasai. Artinya, teknologi juga sebagai sarana untuk menangani masalah teknis dan sosial yang dihadapai manusia.
Bagi Heidegger, fakta bahwa teknologi memiliki kebenaran tersendiri tidak harus dibatasi oleh logika instrumental. Konsep teknologi sebagai alat sudah menjadi salah satu pokok pikirannya dalam Being and Time yang terbit pertama kali pada tahun 1927. Dalam analisisnya menegaskan, bahwa bukan mustahil benda menjadi alat, karena benda menjadi “sesuatu untuk” sesuatu yang lain. Namun, konsep alat dalam hal ini tidak berarti bahwa teknologi yang digunakan menjadi sesuatu yang berada dalam rencana dan kontrol manusia. Sebaliknya, teknologi membawa akibat tertentu bahkan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Dalam pandangan Heidegger, teknologi memiliki kebenarannya sendiri yang dapat mengungkapkan dirinya sendiri kepada manusia atau menjadi konteks agar manusia mengenali dunianya dengan lebih jelas. Ia juga menegaskan, bahwa pandangan instrumental mengenai teknologi mengandaikan pandangan yang lebih mendasar mengenai kausalitas dan prinsip kausalitasnya yang mendasari seluruh kebenaran mengenai teknologi. Misalnya piring perak yang biasa dipakai saat perayaan Liturgis, oleh Heidegger diterangkan empat kausalitas yang memungkinkan piring perak tersebut menjadi benda yang siap digunakan saat pelayanan liturgis ditinjau dari causa materialis, causa formalis, causa finalis, dan causa efficiensnya.
Filsafat Teknologi
Pada masa modern filsafat teknologi, tidak hanya membahas techne, poiesis, dan kaitannya dengan dunia kehidupan saja. Tetapi, juga artefak atau teknofak yang pasti memengaruhi kehidupan dan kesadaran. Refleksi filosofi tentang teknologi telah menarik respon yang berbeda tentang teknologi. Di Amerika, dikenal perkumpulan anti-teknologi yang bernama Neo-Luddite. Sebuah gerakan lanjutan dari Luddisme, gerakan anti-industrialisasi di Inggris pada awal abad ke-19. Dikisahkan, bahwa gerakan buruh ini sering merusak mesin, karena mengancam lahan kerjanya. Salah satu pelakunya, bernama Ned Ludd sehingga dikenal Luddisme. Sekarang dikenal Neo-Luddite sebagai gerakan anti-teknologi yang bermanifesto, bahwa biosphere lebih utama dari technosphere. Berseberangan dengan technophobia seperti Luddisme yang melihat hanya dari perspektif bahaya teknologi, diketahui adanya technophilia. Istilah ini merujuk orang-orang yang percaya hanya pada keutamaan teknologi. Mereka melihat status ontologis teknologi tanpa mempertimbangkan dampak-dampaknya yang merugikan. Futurisme, pascahumanisme, dan transhumanisme berada dalam kategori technophilia. Dikatakan, bahwa teknologi tidak hanya dapat menebus keterasingan manusia modern, tetapi juga membawa kebahagiaan yang diinginkan. Beberapa filsuf telah memberikan perhatian terhadap teknologi dalam dunia kehidupan, diantaranya Martin Heidegger, Jurgen Habermas, Jacques Ellul, dan Don Ihde.
Heidegger membuka diskursus filsafat teknologi melalui Being and Time (1927) yang dituntaskan dalam The Question Concerning Technology (1977). Menurut Heidegger, hakikat teknologi bukanlah sesuatu yang bersifat teknologis, melainkan enframing, yakni mencipta, membentuk, dan mentransformasikan yang kemudian mengungkapkan sesuatu yang baru. Dari The Question Concerning Technology dapat disimpulkan dua hal. Pertama, pertanyaan kritis terhadap teknologi untuk menyadari ketersembunyian dan penyingkapan kebenaran dapat membatasi pandangan bahwa dunia seluruhnya hanyalah persediaan. Kedua, pandangan alternatif dari Ge-stell dilakukan dengan menghidupkan kembali techne sebagai seni.
Sedangkan Jacques Ellul dalam The Technological Society (1964) melihat teknologi (spesifiknya dunia teknik sebagai entitas yang otonom dimana manusia tidak bisa mengontrol dan mengatasi kemajuan teknik. Dengan kata lain, implikasi teknik, sosiologis, dan ekologis dari kemajuan teknik hanya dapat diatas oleh kemajuan teknik itu sendiri. Misalnya persoalan limbah industri, maka dibutuhkan teknologi untuk mengatasinya. Berarti, teknik terus maju untuk mengatasi kekurangan yang ada pada dirinya.
Bagi Habermas, kemajuan teknik (teknologi) akhirnya menentukan kesadaran masyarakat modern. Pemahaman diri (self-understanding) masyarakat modern tentang dunianya, dalam pandangan Habermas, dimediasikan oleh apropriasi hermeneutis terhadap budaya teknologi yang bergerak secara teleologis atau jaring-jaring logika teknik kemudian menjadi determinan utama kesadaran. Akibatnya, dimensi praksis rasio hanya dimengeri sebagai aplikasi teknis yang merupakan implementasi sains dan rasionalitas. Hal ini yang memunculkan bentuk kontrol teknis terhadap alam, sehingga tujuan utama pencerahan (emansipasi sosial) terabaikan. Ilmu pengetahuan lantas dimengerti hanya sebagai cara bagaimana mengontrol dan menguasai alam hingga masyarakat modern tenggelam dan terarahkan oleh dimensi teknis dari pengetahuan.
Refleksi atas peranan instrumentasi, menurut Ihde adalah wilayah pertemuan antara filsafat sains dan filsafat teknologi. Realitas yang ditampilkan oleh perwujudan sains dalam teknologi adalah realisme instrumental. Mengenai hubungan manusia dan teknologi, Ihde membaginya dalam empat jenis hubungan, yaitu hubungan kebertubuhan (embodiment relations), hubungan hermeneutis (hermeneutic relations), hubungan keberlainan (alterity relations), dan hubungan latar belakang (background relations). Dalam ketiga jenis hubungan yang pertama, alat berperan utama. Sementara dalam background relations, alat memainkan peranan di latar belakang. Ihde juga mengatakan, bahwa teknologi tertanam dalam budaya, sebab teknologi mengambil peranan penting dalam hubungan manusia dengan dunianya dan juga budayanya. Ihde menolak pandangan bahwa alat teknologi netral dan hanya berupa alat-alat sederhana dengan tujuan dan sarana yang jelas. Interpretasi semata-mata instrumental terhadap teknologi ditolak oleh Ihde, sebab ada kecenderungan latent telic pada alat.
Refleksi
Kerusakan lingkungan akibat penggunaan teknologi masih digarap belum dengan totalitas. Polusi udara dan air, erosi tanah, penggundulan hutan, dan lainnya telah mengancam sumber daya alam yang krusial bagi kehidupan Masalah lingkungan memengaruhi hidup semua orang di bumi. Keutuhan lingkungan dalam ekosistem bumi harus dipertahankan salah satunya untuk generasi mendatang. Kerusakan lingkungan merupakan gejala dari problem yang lebih mendalam, yakni cara pandang terhadap manusia, teknologi, dan lingkungan. Oleh sebab itu, manusia mesti mengembangkan teknologi yang bermanfaat bagi lingkungan dan dirinya serta menolak dampak negatif dari teknologi. Persoalan moralitas yang menyangkut aktivitas hidup manusia khususnya soal etika dalam teknologi juga hal yang tidak bisa dipisahkan dalam hal ini. Masyarakat yang hidup di negara berkembang mesti kritis terhadap teknologi yang digunakan. Apakah penggunaan teknologi ini sungguh berguna untuk meningkatkan kesejahteraan dan tidak membawa efek buruk terhadap kebudayaannya? Memilih dan memilah teknologi yang berguna bagi masyarakat dan menggunakannya dengan bijaksana menjadi tugas bersama. Tentu semua itu diasasi pada kesadaran penuh dan pemahaman yang benar berkenaan cara pandang terhadap manusia, teknologi, dan lingkungan.
Referensi
Waston. 2019. “Strategi Menang Dalam Revolusi Industri 4.0 (Perspektif Filsafat Thomas Kuhn)”. The 10th University Research Colloqium.
Titien Saraswati. 2019. “Pengaruh Revolusi Industri pada Arsitektur dan Lingkungan Binaan”. Prosiding Seminar Nasional Arsitektur, Budaya dan Lingkungan Binaan (SEMARAYANA #1).
Manahan P. Tampubolon. 2019. “Metode Pembelajaran di “Era Industri 4.0” dalam buku “Kapita Selekta Magister Administrasi/Manajemen Pendidikan: Isu – Isu Pendidikan di Era 4.0”. Jakarta: UKI Press.
Budi Hartanto. 2013. “Filsafat Teknologi”. Studia Humanika Masjid Salman ITB.
Ahmad Herdiansyah. 2019. “Filsafat Manusia: Menyikapi Dampak dari Perkembangan Teknologi”. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Yesaya Sandang. 2013. “Dari Filsafat ke Filsafat Teknologi: Sebuah Pengantar Awal”. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Mikhael Dua. 2011. “Kebebasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Sebuah Esai Etika”. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Budi Hartanto. 2017. “Humanisme dalam Wacana Filsafat Teknologi”. SPT2017 Conference.
Budi Hartanto. 2013. “Dunia Pasca-Manusia Menjelajahi Tema-Tema Kontemporer Filsafat Teknologi”. Depok: Penerbit Kepik.
Francis Lim. 2008. “Filsafat Teknologi Don Ihde Tentang Dunia, Manusia, dan Alat”. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Kegiatan di SMP Annajaah IBS Hidayatullah Kobi